Kamis, 04 Maret 2010

MUYU ATAU KATI


MUYU ATAU KATI
KAMI SEBENARNYA MUYU ATAU KATI ?
A. PENGANTAR
Ada sebagian teman-teman, kaka-kaka, adik-adik yang mempunyai pandangan bahwa kami sebenarnya suku bangsa Kati dan bukan Muyu. Ada juga sebagian teman-teman, kaka-kaka, adik-adik yang mempunyai pandangan lain bahwa kami bukan suku bangsa Kati tetapi sebenarnya suku bangsa Muyu.
Memang apa yang anda katakan tentang Kati atau Muyu itu benar. Dalam artikel ini akan dibuktikan apakah kami suku bangsa Kati atau Muyu dengan menggunakan data sejarah dan wawancara dengan beberapa informan di Mindiptana, dengan pendekatan etimologis Muyu.
B. MUYU
Istilah Muyu diperkirakan muncul bersamaan dengan masuknya missi katolik yang di bawakan oleh pastor Petrus Hoeboer berkebagsaan Belanda pada tahun 1933 di kampung Ninati daerah Muyu bagian utara.
Eksplorasi pertama di daerah Muyu dimulai yang disebut Perkemahan Swallow ( Swallow Bivouac ). Swallow adalah sebuah kapal perkemahan yang pada bulan Vebruari tahun 1909 berlabuh di sungai Digul, dekat muara sungai Kao. Pada bulan Mei kapal itu naik lebih ke hulu dari Sungai Digul. Dari 27 Maret hingga 6 April ekspedisi itu berlayar ke hulu Sungai Kao 50 km lebih ke atas lagi.
Diperkirakan dalam perjalanan ekspedisi ini, mereka mengadakan kontak pertama dengan penduduk setempat di pinggiran Sungai Kao pada sub suku Kamindip yang hidup di wilayah dusun mereka di pinggiran Sungai Mui. Pada sub suku Kamindip ini ada juga sekelompok orang yang mempunyai klen Muyan. Klen Muyan ini yang diperkirakan mengadakan kontak pertama dengan para ekspedisi tersebut dan mereka memperkenalkan klen mereka kepada para ekspedisi tersebut bahwa mereka adalah klen Muyan dengan mengatakan “ neto muyannano “ yang artinya “ saya ini orang/klen Muyan “. Dari perkenalan ini kemudia para ekspedisi tersebut menulis dalam buku catatan harian mereka dan mereka kemungkinan meyebut seluruh penduduk itu dari Selatan hingga ke Utara dengan satu istilah yaitu Muyu dan didukung dengan hampir semua kosa kata dalam bahasa itu sama. Sedangkan kata Muyan kemungkinan mengalami perubahan akhiran atau penghilangan akhiran an dan di gantikan dengan akhiran u dan menjadi Muyu serta di populerkan pada tulisan-tulisan dan laporan-laporan berikutnya.
Di versi lain, istilah Muyu ini muncul karena orang-orang yang tinggal di daerah itu dari Selatan hingga ke Utara mereka menyebut Sungai yang mengalir antara sungai Kao di bagian Barat dengan Sungai Fly di bagian Timur itu dengan istilah “ ok Mui “, yang artinya “ sungai Mui “ kali Muyu. Salah satu informan di Mindiptana mengatakan bahwa, istilah “ Muyu “ ini muncul ketika penduduk setempat mengadakan kontak pertama dengan para ekspedisi yang terdiri dari orang-orang Belanda dari muara Sungai Mui hingga ke hulu sungai itu dan mereka para ekspedisi menanyakan kepada penduduk setempat bahwa ini sungai apa, penduduk setempat menjawab ini “ ok Mui “ yang artinnya “ sungai Mui “, atau kali Muyu dan para ekspedisi Belanda menulis Mui dengan ejaan Belanda Moejoe yang di Indonesiakan menjadi Muyu. Karena penghilangan akhiran i pada kata Mui dan digantikan dengan akhiran yu menjadi Muyu, maka dari sinilah timbul istilah Muyu.
C. KATI
Orang-orang yang hidup diantara sungai Kao di bagian Barat dan sungai Fly di bagian Timur mereka menyebut nama atau diri mereka dengan satu istilah yaitu “ Kati “. Istilah Kati ini menurut mereka mempunyai arti “ manusia yang sesungguhnya “ yang berbeda dari suku-suku bangsa tetangga mereka seperti suku bangsa Mandobo di bagian Barat dan Selatan, suku bangsa Ngalum di bagian Utara serta orang Awin di bagian Timur dan termasuk Negara Tetangga Papua New Guinea. Perbedaan yang dimaksud disini antara lain, bahasa, cara menghadapi, bertindak dan menyelesaikan suatu perkara, perbedaan orientasi kehidupan kepada masa lalu, masa kini dan masa depan dan juga kriteria lainnya yang dibuat oleh orang-orang yang hidup di antara sungai Kao di bagian Barat dan sungai Fly di bagian Timur kepada suku bangsa tetangga mereka.
Ada batasan istilah “ MUYU “ yaitu “ Manusia Ulet Yang Unik “ yang populer berkembang di kalangan Mahasiswa/i Muyu di Jayapura. Istilah Manusia Ulet Yang Unik saya tidak temukan istilah ini dalam referensi tentang orang Muyu dan juga dari wawancara dengan beberapa orang Muyu mereka tidak menyebutkan istilah itu, dan ketika saya wawancara tentang istilah itu mereka menolak itu dan membantah bahwa kami bukan Manusia Ulet Yang Unik tetapi kami ini sebernanya Kati. Maka berdasarkan data yang ditemukan bahwa sebernanya istilah Manusia Ulet Yang Unik ( MUYU ) adalah salah dan tidak ilmiah. Manusia Ulet Yang Unik tidak ada kaitannya dengan istilah Muyu maka tidak dibenarkan untuk dikaitkan dengan istilah Muyu.


Oleh:
Maksimus Mamo Kandam
Antropologi FISIP Universitas Cenderawasih
Mobille: 085244780741
E-mail: antrop_uncen@hotmail.com

BAHASA SUKU BANGSA MUYU


BAHASA
BAHASA SUKU BANGSA MUYU

A. Konsep Bahasa
Bahasa menurut konsep antropologi. Bahasa adalah suatu sistem bunyi, yang kalau digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti, yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu ( Haviland dalam Soekadijo, 1985 : 359 ).

B. Klasifikasi Bahasa Muyu
Dalam bidang kebahasaan, di Irian Jaya sampai kini tercatat kurang lebih 224 bahasa lokal yang diujarkan oleh masing-masing kelompok etnik ( Ayamiseba, 1984 ). Bahasa-bahasa lokal yang berbeda itu oleh ahli-ahli bahasa dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Pertama, adalah bahasa-bahasa lokal yang dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Austronesia dan kategori kedua adalah bahasa-bahasa yang tidak termasuk bahasa Austronesia ( non Austronesia ) yang dinamakan bahasa-bahasa Papua ( Ray, 1927 ). Contoh dari masyarakat yang bahasa-bahasa kategori pertama, Austronesia, adalah orang Biak, orang Waropen, orang Wandamen, dan orang Raja Ampat. Sebaliknya contoh untuk masyarakat yang menggunakan bahasa-bahasa Papua adalah orang Muyu, orang Dani, Orang Kapauku, dan orang Ayamaru.

1. Bahasa Muyu Dan Dialek
Berdasarkan pengklasifikasian diatas bahwa bahasa Muyu tergolong dalam rumpun bahasa Papua atau non Austronesia dapat dilihat dalam ciri-ciri bahasa. Ciri-ciri bahasa disini dilihat dalam anak kalimat dengan struktur frasa MD ( menerangkan diterangkan ), kata yang menerangkan terletak sebelum yang diterangkan.
Contoh kalimat :
Ne Ambib Wanaman, “ Saya Rumah Pulang Mau “, Saya Mau Pulang Rumah.
Wonong Tana, “ Perempuan Anak “, Anak Perempuan.
Suku Muyu atau Kati mempunyai bahasanya sendiri yaitu bahasa Kati atau Muyu. Dalam bahasa Kati atau Muyu sendiri di klasifikasi ke dalam 8 sub bahasa sesuai dengan 8 sub suku yang ada di wilayah suku bangsa Muyu atau Kati antara lain dimulai dari Selatan ke Utara yaitu dialek Kamindip, Okpari, Kakaib, Kawiptet, Are, Kasaut, Jonggom dan dialek Ninggrum. Ke-8 sub suku Kati yang telah disebutkan diatas masing-masing mempunyai dialeknya sendiri-sendiri, tetapi dalam kosa kata terdapat hampir semua persamaan-persamaan walaupun ada sedikit perbedaan dalam kosa kata. Dalam bahasa Kamindip dan Okpari tidak ada perbedaan namun mereka mengklaim bahwa mereka beda sub suku antara Kamindip dan Okpari.

Tabel Dialek Sub Suku Muyu
Dialek Ke-8 Sub Suku Bangsa Kati.
No Bhs Indonesia Dialek Kamindip Dialek Okpari Dialek Kakaip Dialek Kawiptet Dialek Are Dialek Kasaut Dialek Jonggom Dialek Ninggrum
1 Selamat pagi Amkimbi Amun Amkimbi Amun Amkimo Amun Amkitimo Amun Mumtimo Kukbimo Amkitimo Amun Hint Won
2 Selamat siang Atonkop Amun Atonkop Amun Awingjap Amun Amunggun Amun Atonbon Aton Ironge Atonwale Amun Aronkuib
3 Selamat sore Opne Amun Opne Amun Opnon Amun Opnon Amun Miren Anong Kwinunge Opne Amun Amion
4 Selamat malam Mitik Amun Mitik Amun Amnom Amun Amnom Amun Ngumti Anong Kwinunge Amnom Amun Amgumdi
5 Anjing Anon Anon Anon Anon Nengop Nengop Anon Nengop
6 Babi Awon Awon Awon Awon Kwang Kwang Awon Kwang
7 Kasuari Diap Diap Diap Niap Ngatop Byangtop Banap Byangrop
8 Burung Kaka Tua Putih On Kayok On Kayok On Kawa On Kawa On Nama On Nama On kawa Anoa
9 Burung Maleo Onsa Onsa On Yaa On Dat On Woum On Woum On Tat -
10 Burung Mambruk Onkutim Onkutim On Kurim On Kudim On Kitim On Kitim On Kutim On Krim
11 Burung Taun-taun Onkewet Onkewet On Kewet On Kewet On Kawet On Kawer On Kewet On Awok
12 Burung Kelelawar On Yepak On Yepak On Jowom On Jowom On Japa On Yom On Jowom On Hani
13 Burung Cenderawasih Ondokok Ondokok On No On Dadop On Wom On Waom Ontalop Ontarop
14 Ular Anyuk Anyuk Nin Nin Inup Inup Niin Inup
15 Biawak Ayi Ayi Ji Ayi Atim Besom Yii Arim
15 Buaya Ayimberep Ayimberep Ji Benep Ayimbenep Banep Atim Yimbenep Arim
17 Tikus Tanah Benem Benem Ba Benem Emba Benem Karok Kaser Babelem Biawon
18 Tikus Ombik Ombik Ba Emba Bik Bik Ba Bia
19 Ikan On On On Ton Tem Enon Ton Kion
20 Udang Burinan/Arom Burinan/Arom But But Sup Cup But Kakta
21 Kura-kura Ambom Ambom Kot Am Kot Ambom Oksup Abom Kotanam Awonhio
22 Kus-kus Ombik Birim Ombik Birim Ba Neep Emba Wabon Saol Atbi Ba Bia
23 Kupu-kupu Titirim Titirim Kapurum Kabulu Kawaburut Orwagim Kawablum Onkrabut
23 Capung Wambermak Wambermak Beretanggin Beledak Sirut Kaumberep Awumbelet Breuk
24 Rumah Ambip Ambip Ambip Ambip Ama Am Ambib Am
25 Pintu Ambonggo Ambonggo Ambonko Ambonkim Kebon Erem Amtem Amtem
26 Jendela Ambonggo Ambonggo - - - Tamon Okambonkim -
27 Perapian Amotep Amotep Amot Korep Angkodep Kotepon Amkotep Amotpon Amkorep
28 Makanan Anyiman Anyiman Animan Animan Iniman Alol Animan Iniman
29 Hidup Sien Sien Dopiri Tuup Sin Barinem Tolup Wake
30 Mati Ainen Ainen Bopni Bobni Kwen Conge Bobni Knien
31 Air Ok Ok Ok Ok Ok Ok Ok Ok
32 Hujan Am Am Am Am Wali Em Am We
33 Kali/Sungai Ok Ok Ok Ok Ok Ok Ok Ok
34 Kabur Okmim Okmim Ok mim Okmim Okmim Okmim Yamkat Mim
35 Jernih Karar Ok Karar Ok Ok Karat - Okwansen Ok Etoknunge Milip Ok Daman
36 Pohon Ap Ap At Wi Ap A Ataenunge At A
37 Kayu Ap Ap At AP A Akim At A
38 Batu Bot Bot Bot Bot Bol Irop Bot Bo
39 Tanah Ogat Ambikin Barap/Ambipkin Badap Betap Taol Batap Brap
40 Manusia Katuk Katuk Karuk Kaduk Katup Katup/Kor Katuk/Nima Karuk
41 Jalanan Kiman Kiman Kiwan Kiman Wiya Jalib Kiwan Wem
42 Teman Anggotmi Anggotmi Angkotmi Anggotmi Neke Nekatupwa Anggotmi Nekaruk
43 Tembakau Apuk Apuk Awuk Tabuk Sabuk Sabuk Top Suwuk
44 Baik Amun Amun Amun Amun Lapmun Keplap Amun Kwinmo
45 Buruk Sowok Sowok Amunban Taep Talbol Kepmacaya Tatep Tattbo
46 Setan Katoro Katoro Awat Tawat Baet Sakbal Tawat Swa
47 Busur Tinim Tinim Anadinim Tinim Tinim Aroyun Tinim Tinim
48 Anak Panah Ando Ando Ana Ano Ara Aro Tinim Ana A
49 Api Amo Amo Amot Amot Awop Ango Amot Awop
50 Noken Men Men Men Men Men Men Men Men
51 Kampak Kapak/Tao Kapak/Tao Kapak/Tao Tamat Tao Tao Kapak/Tao Kapak/To


C. Konsep Suku Bangsa
Suku bangsa adalah unit atau kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan sosial lalinnya berdasarkan kesadaran akan identitas perbedaan kebudayaan ( Al-Barry, 2001 : 321 ).

1. Nama Suku Bangsa
Istilah Muyu diperkirakan muncul bersamaan dengan masuknya missi katolik yang di bawakan oleh pastor Petrus Hoeboer berkebagsaan Belanda pada tahun 1933 di kampung Ninati daerah Muyu bagian utara.
Eksplorasi pertama di daerah Muyu dimulai yang disebut Perkemahan Swallow ( Swallow Bivouac ). Swallow adalah sebuah kapal perkemahan yang pada bulan Februari tahun 1909 berlabuh di sungai Digul, dekat muara sungai Kao. Pada bulan Mei kapal itu berlayar lebih ke hulu dari Sungai Digul. Dari 27 Maret hingga 6 April ekspedisi itu berlayar ke hulu Sungai Kao 50 km lebih ke atas lagi ( Schoorl, 1997 : 232).
Diperkirakan dalam perjalanan ekspedisi ini, mereka mengadakan kontak pertama dengan penduduk setempat di pinggiran Sungai Kao pada sub suku Kamindip yang hidup di wilayah dusun mereka di pinggiran Sungai Mui. Pada sub suku Kamindip ini ada juga sekelompok orang yang mempunyai klen Muyan. Klen Muyan ini yang diperkirakan mengadakan kontak pertama dengan para ekspedisi tersebut dan mereka memperkenalkan klen mereka kepada para ekspedisi tersebut bahwa mereka adalah klen Muyan. Dari perkenalan ini kemudia para ekspedisi tersebut menulis dalam catatan harian mereka dan mereka kemungkinan meyebut seluruh penduduk itu dari Selatan hingga ke Utara dengan satu istilah yaitu Muyu dan didukung dengan hampir semua kosa kata dalam bahasa sama, sedangkan kata Muyan kemungkinan mengalami perubahan akhiran atau penghilangan an dan di gantikan dengan akhiran u dan menjadi Muyu serta di populerkan pada tulisan-tulisan berikutnya.
Di versi lain, istilah Muyu ini muncul karena orang-orang yang tinggal di daerah itu dari selatan hingga ke utara mereka menyebut Sungai yang mengalir antara sungai Kao di bagian barat dengan sungai Fly di bagian Timur itu dengan istilah “ ok Mui “, yang artinya “ sungai Mui “. Salah satu informan di Mindiptana mengatakan bahwa, istilah “ Muyu “ ini muncul ketika penduduk setempat mengadakan kontak pertama dengan para ekspedisi yang terdiri dari orang-orang Belanda dari muara Sungai Mui hingga ke hulu sungai itu dan mereka menanyakan kepada penduduk setempat bahwa ini sungai apa, penduduk setempat menjawab ini “ ok Mui “ yang artinnya “ sungai Mui “, karena penghilangan akhiran u pada kata Mui dan digantikan dengan akhiran yu menjadi Muyu, maka dari sinilah timbul istilah Muyu.
Penduduk setempat mereka menyebut nama mereka dengan satu istilah yaitu Kati. Istilah Kati ini menurut mereka mempunyai arti “ manusia yang sesungguhnya “ yang berbeda dari suku-suku tetangga mereka seperti suku bangsa Mandobo di bagian Barat dan Selatan, suku bangsa Ngalum di bagian Utara serta orang Awin di bagian Timur dan termasuk Negara Tetangga Papua New Guinea.

2. Sub Suku Dan Wilayahnya
2.a. Sub Suku
Dibagian ini akan dijelaskan sub suku secara keseluruhan di daerah suku Muyu di distrik Mindiptana dan distrik Waropko.
Dalam suku bangsa Muyu atau Kati terdapat beberapa sub suku dengan wilayahnya masing-masing. Sub-sub suku yang ada berjumlah delapan sub suku antara lain sub suku Kamindip di bagian selatan dengan wilayah kampung antara lain Sesnuk, Anggamburan, dan Umap. sub suku Okpari ialah dalam ibukota distrik Mindiptana dan kampung Wanggatkibi di bagian Utara serta kampung Imko di baian Timur, dan kampung Amuan dibagian tengah Timur laut. Sub suku Kakaib di bagian Timur dari distrik Mindiptana serta wilayah kampungnya antara lain kampung Kombut, kampung Mokbiran, dan sebagian kampung Kawangtet. Sub suku Are dan sub suku Kasaut terletak dibagian Utara dan berbatasan langsung dengan suku Ngalum dan termasuk wilayah distrik Waropko kabupaten Boven Digoel, wilayah sub suku Are ialah kampung Simpang dan dalam wilayah ibukota distrik Waropko, sebagian kampung Tembutka. Sub suku Kasaut dibagian utara dan wilayah kampung antara lain kampung Upkin, dan Ikhcan. Sub suku Jonggom terletak di bagian Timur Laut serta wilayah kampungnya antara lain kampung Ninati, kampung Yetetkun, sebagian kampung Tembutka. Sub suku Ninggrum adalah tetangga dari sub suku Jonggom juga terletak di bagian Timur Laut dan wilayah kampungnya di kampung Ninggrum, tetapi wilayah sub suku Ninggrum lebih besar masuk wilayah Negara Papua New Guinea. Sub suku Kawibtet terletak di tengah-tengah antara sub suku Okpari, sub suku Are, sub suku Jonggom, dan sub suku Kakaib, juga suku Mandobo di bagian Barat, dan wilayah kampung sub suku Kawiptet antara lain kampung Kanggewot, Upyetetko dan sebagian kampung Kawangtet.
Sebernanya wilayah kampung-kampung sub suku yang telah disebut diatas masih kurang, karena ada kampung-kampung lain yang belum disebutkan karena kampung-kampung tersebut adalah kampung-kampung lama yang penduduknya bergabung di kampung-kampung yang telah disebutkan tadi dan sebagin masyarakat masih bermukim di pengungsian di Negara tetangga Papua New Guinea karena terjadi kontak senjata antara TNI dan OPM tahun 1984 di daerah Muyu.
DAFTAR PUSTAKA

AL – Barry, Yacub
M. Dahlan
2001
Havilan, William A Antropologi Jilid II, Edisi Keempat Diterjemahkan Oleh R.G. Soekadijo, Penerbit Erlangga, Jakarta.
1985

Havilan, William A Antropologi Jilid I, Edisi Keempat Diterjemahkan Oleh R.G. Soekadijo, Penerbit Erlangga, Jakarta.
1985

Kamus Sosiologi Dan Antropologi, Penerbit Indah Surabaya.


Oleh:
Maksimus Mamo Kandam
Antropologi FISIP Universitas Cenderawasih
Mobille: 085244780741
E-mail: antrop_uncen@hotmail.com

Minggu, 28 Februari 2010

PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ADAT KLEN MINDIPTANAMAN DAN KLEN OUTPONKAMBAN

PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ADAT KLEN MINDIPTANAMAN DAN KLEN OUTPONKAMBAN PADA SUKU BANGSA MUYU DI KAMPUNG AMGUMBIT DISTRIK MINDIPTANA KABUPATEN BOVEN DIGOEL

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Antropologi


Oleh :
MAKSIMUS MAMO KANDAM
NIM : 03 301 059

JURUSAN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS CENDEAWASIH
JAYAPURA
2009

KATA PENGANTAR

Kepercayaan terhadap sesuatu kekuatan yang abstrak yang menggerakkan semua aktifitas manusia sehingga manusia percaya kepadanya ialah bersifat pribadi. Saya sebernanya tidak percaya akan adanya “ TUHAN “ atau penganut aliran materialisme. Tetapi saya mengakui bahwa terjadinya alam semesta ini pasti ada satu tokoh utama perancangnya, maka saya percaya bahwa semua awal kehidupan di bumi ini pasti ada perancangnya, perancang itu kemungkinan “ TUHAN “. Maka saya merasa berterima kasih kepada perancang utama tersebut karena ia yang memberikan sangat besar motifasi kepada saya sehingga saya dapat dengan sabar menyelesaikan tulisan ini dengan judul “ PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ADAT KLEN MINDIPTANAMAN DAN KLEN OUTPONKAAMBAN PADA SUKU BANGSA MUYU DI KAMPUNG AMGUMBIT DISTRIK MINDIPTANA KABUPATEN BOVEN DIGOEL “ dengan baik hingga selesai.

Saya menyadari bahwa penulisan ini dapat terlaksana atas bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Bert Kambuaya, MBA selaku Rektor Universitas Cenderawasih.
2. Bapak Drs. Naffi Sanggenafa, MA selaku Dekan FISIP UNCEN dan juga sebagai Dosen pembimbing I yang senantiasa membimbing saya dalam penulisan Skripsi ini.
3. Bapak Drs. Agus Samori, M.Si selaku Dosen pembimbing II yang senantiasa membimbing penulis dalam penyusun Skripsi ini.
4. Ibu Dra. Ivone Poli, M. Si sebagai Ketua Jurusan Antropologi FISIP UNCEN yang selalu membantu saya dalam segala atministrasi yang berkaitan dengan perkuliahan maupun surat-surat penting lainya.
5. Bapak Drs. Akhmad Kadir, M. Hum sebagai Sekretaris Jurusan Antropologi FISIP UNCEN dan juga sebagai Dosen Wali saya yang selalu member arahan kepada saya dalam perkuliahan.
6. Bapak Drs. Barkis Suraatmadja yang sangat setia serta akrap dan selalu memberikan motifasi, memberikan arahan yang sangat baik kepada seluruh mahasiswanya termasuk saya walaupun ia bukan Dosen pembimbing.
7. Seluruh Bapak Ibu Dosen di Jurusan Antropologi FISIP UNCEN yang memkali pengetahuan tentang disiplin ilmu Antropologi.
8. Seluruh teman-teman seangkatan 2003, Fitri, Alexander, Aquarisal, Agustinus, Ananias, Alfares, Naman, Eke, Tonius, Albert, Agustunus, Aloisus, Qystein, Abner, Piter ( Almahrum ), Lea, Daisy, Hadijah, Theresia, Lenny, Sonya, Seth, Helena, Marselina, Ester, Kesia, Teriana dan juga teman-teman lain yang belum disebutkan namanya dalam tulisan ini yang selalu memberi semangat belajar dalam perkuliahan.
9. Kedua orang tuaku yaitu Ambe Bernadus Kanembut dan Enang Aloisia Amboram yang membesarkan serta menyekolahkan saya.
10. Ketujuh saudara/iku, ambah Nongok, Kandu, dan oni Cristofora, serta taman van Halen, Marino, Wilhelmus ( almahrum ), dan Amarop yang senantiasa memberikan motifasi belajar serta memberi bantuan moril maupun materil.
11. Seluruh keluarga besar klen Amboram yang dengan sabar memberi bantuan materil maupun moril kepada saya.
12. Yayasan Don Bosco, Keuskupan Agung Merauke yang juga memberi dukungan materil selama empat ( 2003-2007 ) tahun kepada saya.
13. Almamaterku Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih.




Maksimus Mamo Kandam






DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul…………………………………………………………… i
Halaman Persetujuan…………………………………………………….. ii
Halaman Pengesahan…………………………………………………….. iii Halaman Persembahan…………………………………………………… iv
Halaman Motto…………………………………………………………… v
Daftar Gambar…………………………………………………………… vi
Daftar Diagram Kekerabatan……………………………………………. xii
Daftar Tabel……………………………………………........................... xiii
Daftar Isi……………………………………………………………….... ix

BAB I : PENDAHULUAN.................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah…………………………………… 1
B. Pembatasan Masalah……………………………………….. 5
C. Teori Dan Konsep………………………………………… 6
1. Teori…………………………………………………… 6
2. Konsep………………………………………………… 8
D. Tujuan Penelitin…………………………………………… 9
1. Tujuan Akademis……………………………………… 9
2. Tujuan Praktis………………………………………… 10
E. Metode Penelitian………………………………………… 10
1. Wawancara……………………………………………. 10
2. Obserfasi Partisipasi………………………………….. 11
3. Studi Pustaka………………………………………… 11
F. Populasi Dan Sampel…………………………………… 12
1. Populasi……………………………………………… 12
2. Sampel………………………………………………. 13
G. Sistematika Penulisan…………………………………… 13

BAB II : GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN……… 15

A. Kampung…………………………….………………….... 15
1. Nama Kampung Dan Sejarah Asal Usul………….. 15
2. Nama Suku Bangsa………………………………….. 16
3. Sub Suku…………………………………………….. 18
B. Keadaan Geografis……………………………………… 20
1. Letak Kampung Amgumbit………………………… 20
2. Batas-Batas Kampung Amgumbit…………………. 21
3. Luas Kampung Amgumbit………………………… 21
4. Topografi…………………………………………… 21
5. Iklim………………………………………………... 22
6. Jarak Dan Transportasi Ke Pusat Pemerintahan... 24
C. Keadaan Demografis………………………………….. 26
1. Jumlah Penduduk………………………………….. 26
2. Migrasi Keluar Masuk Kampung………………... 29

D. Flora Dan Fauna…………………………………….. 30
1. Flora………………………………………………. 30
2. Fauna……………………………………………… 31

E. Pendidikan Formal…………………………………… 33
1. Sekolah Dasar……………………………………. 34
2. Sekolah Menengah Pertama…………………….. 38
3. Sekolah Menengah Atas………………………… 40

F. Keadaan Kesehatan…………………………………. 42
1. Jenis-Jenis Penyakit…………………………….... 42
2. Puskesmas Dan Fasilitasnya……………………. 43
3. Petugas Kesehatah………………………………. 43
4. Kebiasaan Masyarakat Yang Membuat
Mereka Sakit…………………………….…........ 44

G. Kebiasaan Sehari-Hari……………………………… 44
1. Kebiasaan Sehari-Hari Anak-Anak…………….. 44
2. Kebiasaan Sehari-Hari Remaja………………… 45
3. Kebiasaan Sehari-Hari Orang Dewasa……….. 47
H. Beberapa Unsur Kebudayaan…………………….. 49
1. Bahasa………………………………………….. 49
2. Sistem Mata Pencaharian Hidup……………... 56
3. Organisasi Tradisional………………………… 61
4. Sistem Religi Dan Agama…………………… 75

BAB III : Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa
Tanah Adat………………………………………. 77
A. Beberapa Kasus Sengketa……………………….. 77
1. Klen Mindiptanaman VS Klen
Outponkamban……………………………….. 77
2. Klen Outponkamban VS Perikanan………… 78
3. Laranga Penguburan Jenasah Di Kuburan… 79
4. Masalah Lokasi Manggistan………………... 81
5. Nathalis Kakutip VS Pengusaha
Batu-Bata…………………………………….. 81

B. Kasus Penganiayaan…………………………….. 84
BAB IV : Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Klen
Mindiptanaman Dan Klen Outponkamban…… 86
A. Nama-Nama Tanah Adat………………………... 86
1. Nama-Nama Tanah Adat Klen Outonkamban.. 86
2. Nama-Nama Tanah Adat Klen
Mindiptanaman………………………………… 91
B. Sistem Kekerabatan Dan Pola Tempat Tinggal… 93
1. Klen…………………………………………….. 93
2. Batas-Batas Wilayah…………………………... 95
3. Tempat Tinggal………………………………... 98

C. Sistem Hukum…………………………………….. 99
1. Hak Milik……………………………………… 99
2. Hak Pakai……………………………………… 103
3. Hak Waris……………………………………... 104
4. Pengaturan Hak……………………………….. 114

D. Penguasaan Tanah………………………………... 118
1. Kepemilikan Tanah…………………………… 118
2. Tempat Keramat……………………………… 119

E. Pemilihan Media Penyelesaian Sengketa
Tanah Adat Antara Klen Mindiptanaman
Dan Klen Outpponkamban…………………….. 120
1. Penyelesaian Dengan Media Arbitrase…….. 121
2. Penyelesaian Dengan Perdamaian Desa…… 125
3. Penyelesaian Dengan Media Kupuk,
Mitim, Dan Jawot…………………………. 137
4. Penyelesaian Di Kantor Polisi…………….. 142

BAB V : Penutup…………………………………………. 145
A. Kesimpulan……………………………………... 144
1. Faktor Penyebab Terjadinya Sengketa
Tanah Adat……………………………………. 144
2. Media Penyelesaian Sengketa Tanah Adat.. 147
3. Penyelesaian Sengketa Tanah Adat
Antara Klen Mindiptanaman dan Klen
Outponkamban………………………................ 147

B. Saran…………………………………………….. 148




Sabtu, 12 September 2009

Masyarakat Adat dan Modernisasi

Masyarakat Adat dan Modernisasi Pada tahun 1933 Agama Roma Katholik masuk ke daerah Muyu dan beroperasi membuka isolasi daerah kemudian orang Muyu mulai bersekolah hingga kini generasi yang kedua. Orang muyu generasi pertama mulai di hitung dari tahun 1940-an hingga 1969, yang menjalani pendidikan memang di golongkan membawa prestasi yang baik, walaupun alat–alat atau fasilitas penunjang pendidikannya sangat sederhana, generasi pertama yang menjalani pendidikan dikategorikan dalam dua tahap yaitu tahap pertama memakai kulit kuyu dan arang, dan tahap kedua memakai kalam batu, generasi ini menuai hasil yang baik. Karena 80 % orang muyu di fungsikan sebagai pendidik ( guru ) dan 10 % menjadi tukang kayu dan mereka di kerjakan oleh pemerintah Kolonial Belanda di seluruh daerah di Papua Selatan, hingga sampai ke Oksibil ( kini Pegunungan Bintang ).

Generasi kedua di mulai dari tahun 1970 sampai tahun 2007, yang menjadi sarjana dan masih mahaiswa bila mereka mempunyai keturunan kemudian di hitung generasi yang ketiga. Pada generasi kedua ini mengalami perubahan besar, alat penunjang belajar generasi kedua mencakup alat - alat modern yang kini kita kenal dan hadapi dengan barang – barang tersebut, misalnya buku, bolpen, pensil, mistar, televise, radio, media massa dan internet. Generasi kedua menjalani dua babak, babak yang pertama menjalani fasilitas belajar dengan buku, bolpen, pensil dan mistar. Babak yang kedua ada penambahan fasilitas belajar dari yang sudah ada di babak pertama, yaittu radio, televisi, koputer, internet ( media elektronik ) dan surat kabar ( media massa ). Orang muyu era kini alat penunjang tambahan bukan lagi menjadi fasilitas belajar melainkan menjadi fasilitas untuk bermain – main atau mengacaukan situasi belajarnya (alias ber pesta pora).

Pada tahun 1980-an generasi ke dua periode pertama, mulai menyebar keluar daerah guna melanjutkan pedidikan ke Perguruan Tinggi terutama di Jayapura. Di periode pertama ini orang muyu sedikit terkenah limbah modern, seperti mabuk – mabukan, judi – judian, dan pesta pora lainnya. Sampai pada giliran periode kedua melebihi kapasitas dari periode pertama, generasi kedua ini sampai pada tingkat eksekusi ( pembunuhan ) tanpa memandang bulu, mabuk berkepanjangan tidak melihat waktu, pemerkosaan, hamil di luar pernikahan (illegal ) tidak punya suami yang sah, kehilangan koordinasi antara satu dan lain, tidak memandang kaka dan adik.

Imbasnya yang kemudian terjadi adalah sukuisme, familisme, marga, klien, memisahkan asal kota dan kampung yang membawah kehancuran persatuan dan kesatuan antara orang muyu sendiri.

Kita melihat perkembangan generasi muyu yang melanjutkan pendidikan di kota study khususnya di jayapura, di mulai dari tahun 2000 hingga sekarang tahun 2007, realitasnya adalah merasa sangat bangga karena kuantitas ( jumlah ) nya sangat meyakinkan yang berkisar antara kurang lebih ( ± ) delapan ratusan, dan mereka menduduki semua Perguruan Tinggi yang ada di kota study Jayapura.

Namun hal itu sangat disayangkan jika melihat dari sisi kuantitas oke,tetapi di sisi kualitas ( bobot ) dalam meraih prestasi belajar, sungggu sangat memprihatinkan, karena sangat berbedah jauh dengan teman – teman mahasiswa dari daerah papua lain. Kita bisa melihat bukti nyata pada kronologis juni 2006 lalu, terjadi nya musibah perebutan dan pemalangan Asrama Merauke (As Maro) putra di Padang Bulan oleh oknum warga lokal setempat ( padang bulan ), di sebabkan karena asrama Maro di jadikan bar, bir, bor dan menjadi geng di padang bulan. Keresahan warga di padang bulan sudah sekian lama pada waktu itu menjadi moment untuk mereka memalang. Kita melihat pada saat itu yang menjadi geng siapa? Dan yang mendominasi dalam lingkungan penduduk mahasiswa As Maro siapa? Ini menjadi catatan untuk mahasiswa muyu untuk di kemudian hari, bukan lagi menyimpan emosi untuk kemudian melawan balik tetapi bagaiman kita mengubah sikap kita di kemudian hari

CATATAN: Mari kita ber pegang tangan untuk melawan arus modernisasi dan globalisasi hindari dari konsep tiga (3) A:

1. Acak – acakan
2. Akal – akalan
3. Asal – asalan / Amburadul.


Acak – acakan adalah: Apabilah dalam menghadapi suatu masalah, kita belum bisa dapat menyelesaikannya, melainkan hanya boleh mempersulit masalah,mengelabuhi,belum lagi masalah tersebut dibiarkan, lalu kabur hilang dari hadapan masalah. Bukankah hal di atas dapat menunjang satu kualitas Sumber Daya Manusia Muyu yang dapat menunjang kelancaran hidup manusia?
Kehidupan ini selayaknya tidak boleh terjadi, tetapi kamilah subyek dan obyek dari realitas kehidupan tak bernilai itu. Kita sekarang sedang menghadapi realitas itu, dan kita berada di dalam realitas kehidupan itu sendiri, sementara kita tidak pernah menyadari itu,ketidak sadaran itu melekat pada diri kita. Namun hal itu masih saja dianggap suatu solusi dalam memperoleh kualitas Sumber Daya Manusia,dengan cara mabuk – mabukan, disko (acara), putar – putar tape / radio seperti di dalam sebuah bar atau diskotik, tertawa terbahak – bahak, dan masih banyak lagi kegiatan seremonial yang kita hasilkan sebagai sebuah nialai positif dalam menjalani realita hidup.

Akal – akalan adalah: dalam menjalankan sesuatu apa saja sifatnya tidak akan ada kenyataan dalam mengerjakan sesuatu atau menjalankan sesuatu, tetapi hasilnya akan bersifat rekayasa yang dapat membingungkan orang. Hal inilah yang disebut akal – akalan, dan fakta dari akal – akalan itu dapat dikategorikan dalam sebuah kegiatan onani otak tidak berdasarkan pada sebuah realitas konsep yang akan dibangun. Karakter akal – akalan ini juga ada pada generasi sekarang, dimana generasi yang hidup dengan teknologi serba lengkap dengan kemajuan teknologi pengetahuan, tetapi kini generasi sekarang yang mana, dapat dikatakan generasi millennium ini, jadi korban kemajuan teknologi.
Mengapa dikatakan demikian? Adalah penting juga kita ketahui bahwa, dengan adanya teknologi tersebut membuat generasi suku bangsa Muyu hebat, dengan kehebatan itu, dapat memiliki karakter egois, tersombong, kehangkuan dengan kebodohannya, ia tidak mau kala dalam menghina sesame suku bangsanya saperti kata paket langsung, kamu anak kampong, kami anak kota, sehingga kita harus hidup sesuai karakter kami masing – masing, yang orang kampong juga hidup dengan dengan karakternya. Dengan demikian, teknologi juga membuat

generasi manusia muyu seakan – akan tambah tidak tahu diri, karena teknologi telah mengangkat status sosial Generasi Muyu. Karakter akal – akalan inilah yang sering membuat generasi suku bangsa Muyu, tidak ada pada posisi sebernarnya. Akan tetapi sifat dan karakter generasi suku bangsa Muyu itu telah menjadi dasar dalam sebuah reallitas budaya kehidupan generasi muyu.

Asal – asalan / ambur adul adalah: Generasi suku Bangsa Muyu sekarang, sudah tidak berdiri pada posisi mereka sebagai manusia sejati, melainkan berdiri sebagai manusia jadi – jadian, juga dapat dikatakan generasi manusia karton yakni telah diungkap dalam alur sesudah nya diatas. Sementara ambur adul adalah: kehidupan tidak bermartabat, kehidupan yang tidak berpegang pada norma – norma atau nilai – nilai budayanya, kehidupan penuh dengan ketidak sadaran diri, apakah saya benar – benar sudah pada posisi yang sebenarnya atau tidak.

Munculnya karakter kehidupan seperti ini semakin ada dalam pergumulan generasi muda suku bangsa muyu, lagi mengenyam pendidikan di perguruan tinggi mana saja, karena teknologi akhirnya ketahanan diri sebagai generasi suku bangsa muyu makin menurun dengan drastisnya. Hal ini di jempol kebawa dengan sebuah ibu jari tangan, tetapi bukan jempol ke atas, karena fakta telah menunjukan bahwa generasi sekarang sudah ada kemajuan seperti terlihat jelas pada generasi perempuan Muyu kebanyakan, makota rambutnya sudah tidak kelihatan ras suku bangsa Muyu, tetapi malahan penyangkalan yang di lakukan terhadap diri nya dengan cara: smeer rambut dengan parang, sterika pakaian, juga dengan minyak makan (minyak goreng) dan sementara alis pada kening, yang mana alis kening bagi setiap manusia itu, dapat memperkaya atau mempercantik muka ini, di cukur dengan sebuah silet goal baru dari tokoh.

Dengan perkembangan teknologi inilah membuat generasi suku bangsa muyu memiliki ketidak pastian dalam mengenal indentitas nya. Sementara laki lebih radikal dengan kegiatan yang sungguh tidak masuk dalam alam pikkiran manusia seperti mabok tak kunjung henti, putar tape / radio casete besar – besaran, teriak – teriak dengan sedih ataupun gembira seakan – akan ada duka dan luka dalam hati, juga seakan - akan ada sebuah acara pesta. Hal inilah yang disebut kehidupan ambur – adul / asal – asalan.

“K A L A U B U K A N S E K A R A N G K A P A N L A G I” – “K A L A U B U K A N S A Y A S I A P A L A G I.”

Minggu, 12 Juli 2009

PENEMUAN MUMI

PENEMUAN MUMI



Kairo, Ranesi – Para arkeolog Mesir menemukan puluhan mumi di sebuah piramida di selatan Kairo. Mereka terkubur di ruang bawah tanah dengan nisan batu dan masih dalam keadaan baik, beberapa di antaranya sudah berusia empat ribu tahun.

Mumi-mumi tersebut dililit kain linen yang dilukis dengan warna-warna tradisional Firaun Mesir yang cerah seperti biru muda, cokelat muda, dan emas.

Ahli penggalian menyatakan, mumi-mumi ini adalah mumi terindah yang tersimpan dalam keadaan paling baik yang pernah ditemukan sampai sekarang. Selain mumi, di makan tersebut juga ditemukan lima belas topeng, amulet, dan kerajinan tanah liat yang dilukis indah.


KERANGKA VAMPIRE

KERANGKA VAMPIRE


Ahli Antropologi forensic Italia, Matteo Borrini, mengklaim telah menemukan kerangka Vampire. Penemuan ini terjadi di kuburan tepi pantai Venezia, Italia, Jumat 6 Maret 2009. Kerangka perempuan berasal dari Abat Pertengahan. Profilnya memang meyakinkan, yakni mulutnya tertancap bata. Cara itu diyakini, agar si mahluk penghisap darah tak akan menghisap dara lagi. Tentu saja, karena dia jadi sibuk “menghisap bata”

Sumber: Cenderawasihpos Edisi Kamis 12 Maret 2009

Sabtu, 09 Mei 2009

PADA PEMILU 2009 ORANG MUYU DI SELURUH DAERAH MUYU MEMILIH CALEG ORANG MANADO, TORAJA, KEI, DAN ORANG PENDATANG LAINNYA DAN MEREKA TIDAK MEMILIH ORANG

PADA PEMILU 2009 ORANG MUYU DI SELURUH DAERAH MUYU MEMILIH CALEG ORANG MANADO, TORAJA, KEI, DAN ORANG PENDATANG LAINNYA DAN MEREKA TIDAK MEMILIH ORANG MUYU ASLI YANG CALEG

Oleh: Kayapakman

Pemilihan umum calon legislatif tahun 2009 di Kabupaten Boven Digoel di mana ada calek dari orang atau anak-anak Muyu sendiri seperti Romanus Kindom, Barnabas Kalo, Stanislaus Watan, Markus Biweng, Agu Songmen dan lain-lainnya yang memilih daerah pemilihan Mindiptana, Waropko, Kombut, Sesnuk dan sekitarnya, masyarakat TIDAK MEMILIH MEREKA tetapi MASYARAKAT Memilih CALEK ORANG MANADO, TORAJA, KEI dan orang pendatang lainnya. Masyarakat Muyu tidak memilih caleh orang Muyu atau orang Nupka karena menurut penilaian mereka bahwa orang Nupka itu TUKANG MABUK DAN TUKANG BAWA PEREMPUAN, dengan alasan yang sangat dangkal dan tidak memikirkan orang Muyu ke depan dan hanya berorientasi karena uang, sepeda motor, telepon genggam, dan fasilitas lainnya untuk mengorbankan banyak orang, dan masa depan orang Muyu. Mengapa, karena orang pendatang akan menguasai dewan dan semua kebijakan dan keputusan akan di ambil dan diputuskan oleh mereka orang pendatang.
Kami lihat saja kebijakan yang akan di ambil oleh caleg orang pendatang apakah akan memihak kepada orang asli atau secara merata atau sama sekali tidak ada…?, kami lihat saja dan kami berharap semoga JANGAN ADA MASYARAKAT YANG MENGELUH DENGAN DEWAN YANG MEREKA PILIH SENDIRI ini